Kader Ansor Berburu Di Kandang Banteng

Opini | 23-Nov-2024 12:23 WIB | Dilihat : 97 Kali

Wartawan : Arif Bli
Editor : Arif Bli
Kader Ansor Berburu Di Kandang Banteng Penulis : Habibullah

Oleh : Habibullah

Sebagaimana di daerah lain, masyarakat kota Blitar juga akan memilih pemimpinnya sebagai walikota dan wakil walikota pada 27 November mendatang.

Maka ketika bicara tentang kepemimpinan di kota Blitar, yang muncul tentu tentang hegemoni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai penguasa wilayah.

Anggapan demikian bukan untuk mengagungkan parpol berlogo banteng moncong putih, lalu menafikan keberadaan peran dan pengaruh ideologi partai yang lain.

Akan tetapi, catatan sejarah menunjukkan bagaimana hegemoni partai besutan trah Soekarno ini mampu berkuasa dalam setiap proses politik di Kota Blitar. 

Dengan demikian, maka harus diakui bahwa ideologisasi dan politik yang dibangun oleh parpol. Mampu membentuk fanatisme masyarakat untuk memilih dalam setiap momentum pemilu.

Maka tidak mengherankan bila atmosfer politik di kota ini sudah menarik perhatian sejak dari awal. Baik itu dari manover politik yang dilakukan, sampai opini yang dibangun untuk mewujudkan calon tunggal. 

Namun ditengah perjalanan, partai dengan simbol bintang sembilan mengelilingi bumi (PKB) mungusung calon terbaiknya untuk melawan partai penguasa wilayah (PDIP).

Sebagaimana diketahui, sedari awal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah mengusung M. Syauqul Muhibbin yang akhirnya berpasangan dengan Elim Tyu Samba.

Sedangkan dari PDIP sebagai penguasa wilayah, harus mengusung Bambang Rianto untuk berpasangan dengan kader terbaiknya yang bernama Bayu Setyo Kuncoro.

Dan seiring dengan semakin dekatnya waktu pemilihan, kedua pasangan calon terus bergerak dengan penuh daya dan upaya untuk mewujudkan kemenangan.

Semua terus unjuk gigi, baik melalui panggung debat, sarasehan, blusukan, jalan sehat, nobar timnas, sampai kampanye akbar sebagai puncak mengukur kekuatan.

Dengan berbagai manuver dan opini yang muncul, masyarakat sebagai pemilih tentunya sudah bisa menilai dan memilah untuk selanjutnya memilih. 

Peta Politik

Namun terlepas dari itu semua, yang paling menarik perhatian adalah terkait eksistensi suara kaum nahdliyin dalam pusaran suara kaum banteng.

Majunya dua kader Ansor dalam pilwakot Blitar ini, seperti menjadi momentum bagi nahdliyin untuk menegaskan eksistensi di kandang banteng.

Meskipun keberadaan pemilih nasionalis-sosialis sebagai ahli waris dari basis suara PDIP sangat kuat mencengkeram di kota ini. 

Tentu tidak akan membuat surut semangat dan keyakinan dari PKB, sebagai gerbong kekuatan atas basis pemilih muslim-nasionalis.

Munculnya nama Syauqul Muhibbin atau biasa dipanggil Mas Ibin, seakan secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Putra daerah yang lama berproses di Ibu kota, lalu kembali ke daerah, kemudian maju sebagai calon walikota.

Calon dari PKB ini, seperti sudah dipersiapkan dari pusat sejak jauh-jauh hari. Dan pencalonannya pun membawa daya kejut tersendiri bagi PDIP. Ditambah lagi dengan terpilihnya nama Elim Tyu Samba di detik-detik terakhir.

Majunya Mas Ibin ini seperti hendak memberi corak baru dalam ranah sosial-politik yang ada di kota Blitar. Sebagaimana kita tahu, bahwa corak yang ada selama ini hanya satu warna, yakni merah saja.

PKB sebagai partai pertama pengusung pencalonan Mas Ibin untuk bertarung di kandang banteng. Menjadi alarm bagi PDIP yang selama ini menjadi satu-satunya partai penguasa di kota Blitar.

Hal tersebut membuat pasangan calon Bambang - Bayu dan PDIP beserta partai pengusung, seperti mendapat lawan berat dan tangguh yang tidak boleh dianggap remeh. 

Sehingga peta politik yang demikian, mengharuskan rekom PDIP mengusung Bambang Rianto untuk berpasangan dengan Bayu Setyo Kuncoro dari kader PDIP.

Selain sebagai upaya mempertahankan kekuasaan partai dan basis di daerah. Ini juga menjadi bagian dari strategi politik PDIP untuk menggerus suara dari calon PKB dengan mengusung mantan calegnya.

Upaya ini isa dilihat dari bagaimana PDIP mengusung wakil Bambang Rianto, yakni Bayu Setyo Kuncoro. Yang konon, dia juga kader Ansor yang menjabat sebagai Pengurus Harian (PH) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Blitar.

Secara hitung-hitungan, kedua calon Walikota Blitar tersebut mempunyai basis suara di partai PKB. Secara kultural, Bambang Rianto sedikit banyak pasti punya relasi di antara simpatisan dan pemilih PKB.

Pun juga dengan Mas Ibin, tentunya juga punya hal yang sama. Apalagi dia sebagai sekjen pusat GP Ansor. Secara kalkulasi politik, pasti dia juga punya basis suara dan simpatisan yang tentunya juga tidak sedikit.

Namun meski demikian, harus tetap diakui bahwa strategi politik PDIP memang patut diacungi jempol. Apalagi melihat predikatnya sebagai partai yang kalah pilpres, namun tetap menang pileg. 

Suara Ansor

Ketika berbicara suara Ansor, maka tidak lepas dari suara Nahdliyin. Suara kaum sarungan ini menjadi incaran politik paling seksi di antara kedua calon walikota Blitar.

Kenapa demikian, karena Mas Ibin kader Ansor dan Bayu Setyo Kuncoro juga kader Ansor. Maka secara politik, suara Ansor dan Nahdliyin dalam pilwakot Blitar menjadi sangat penting.

Bagi Mas Ibin, suara Ansor ini adalah suara basis. Baik secara kultural maupun secara struktural. Pun juga bagi Bambang Rianto, suara Ansor menjadi basis melalui wakilnya.

Kalau dilihat dari pemetaan suara Nahdliyin secara struktural. Maka suara Ansor Kota Blitar, bisa dipastikan akan memilih pasangan Mas Ibin - Mbak Elim.  

Secara kultural dalam proses di Ansor daerah, Bayu Setyo Kuncoro seharusnya lebih memiliki kekuatan dan kedekatan dengan kader Ansor yang bakal menjadi pemilih.

Namun terlepas dari semua analisis dan pandangan politik di atas, siapapun yang bakal menang nantinya. Semua tergantung pada seberapa banyak rangkulan yang dilakukan, dan seberapa besar peluru yang ditembakkan.

Dan terakhir, sudah menjadi realitas akbar bahwa dari setiap proses politik. Tidak lagi bicara dia dari mana dan warnanya apa? Tapi berbicara dia punya visi-misi apa dan amunisi berapa?

Selebihnya, selamat berburu di Kandang Banteng. 

Related Articles