Garebeg Pasa JE 1958, Tradisi Sakral Kraton Kasunanan Surakarta dalam Syiar Islam

Peristiwa | 01-Apr-2025 08:07 WIB | Dilihat : 19 Kali

Wartawan : Yatno Widodo
Editor : Yatno Widodo
Garebeg Pasa JE 1958, Tradisi Sakral Kraton Kasunanan Surakarta dalam Syiar Islam foto : SSISKS Pakoe Boewono XIII dan Permaisuri Dalem GKR Pakoe Boewono. (Ist)

Solo || Giripos.com - Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Garebeg Pasa JE 1958, sebuah tradisi adat yang berlangsung setiap tahun pada hari kedua Hari Raya Idul Fitri, Selasa (1/4/2025).

Upacara sakral tersebut diselenggarakan atas Dhawuh Dalem (perintah) Raja Kraton Surakarta, Sri Susuhunan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SSISKS) Pakoe Boewono XIII, bersama Prameswari Dalem, GKR Pakoe Boewono.

Dalam prosesi Garebeg Pasa kali ini, sepasang gunungan diberangkatkan dari kawasan dalam Kraton Surakarta menuju Kagungan Dalem Masjid Ageng Kraton Surakarta. 

Prosesi tersebut diiringi oleh ratusan Abdi Dalem dan Sentono Dalem Kraton yang mengikuti jalannya acara dengan penuh khidmat.

Sebagai bagian dari tata pelaksanaan adat, Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Drs. Dipokusumo, M.Si., yang menerima mandat langsung dari SSISKS Pakoe Boewono XIII, meneruskan perintah pemberangkatan kirab kepada Pengageng Sasana Wilapa, KPA H. Dani Nuradinigrat, S.I.P. Kirab gunungan kemudian berlangsung dengan tertib menuju Masjid Ageng Kraton Surakarta.

Saat ditemui di Bangsal Smorokoto, KGPH Adipati Drs. Dipokusumo atau yang akrab disapa Gusti Dipo, menjelaskan bahwa dalam Garebeg Pasa tahun ini, Sinuhun dan Permaisuri Dalem menghadirkan sepasang gunungan yang nantinya akan diperebutkan di dua lokasi utama, yakni di Masjid Ageng dan di Kamandungan.

“Pada Garebeg kali ini, ada sepasang gunungan yang akan dikirabkan dan nantinya akan diperebutkan di Masjid Ageng serta di Kamandungan,” ungkapnya.

Menurut Gusti Dipo, Garebeg Pasa merupakan salah satu tradisi penting yang menunjukkan jati diri Kraton Surakarta sebagai bagian dari Kerajaan Mataram Islam. 

Lebih jauh, Gusti Dipo juga menjelaskan bahwa Tradisi tersebut erat kaitannya dengan syiar agama Islam, sejalan dengan gelar yang disandang oleh Sinuhun, yakni Sayyidin Panetep Panotogomo Kalifatulloh.

“Acara hari ini merupakan salah satu bentuk tradisi Kraton Surakarta yang berkaitan dengan syiar agama Islam. Ini adalah konsekuensi dari Sinuhun yang menyandang gelar Sayyidin Panetep Panotogomo Kalifatulloh,” tutupnya.

Tradisi Garebeg Pasa sendiri merupakan warisan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad, melambangkan keberkahan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat yang berbondong-bondong menghadiri acara ini pun antusias untuk mendapatkan bagian dari gunungan yang dipercaya membawa berkah dan kemakmuran. 

Dengan berlangsungnya Garebeg Pasa JE 1958, Kraton Surakarta terus menjaga kelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari identitas spiritual serta sejarah panjangnya sebagai pusat peradaban Islam di Jawa.

 

 

Related Articles