Disperindag Kota Blitar Genjot Kebangkitan Pasar Tradisional, Adaptasi Digital Jadi Fokus Utama
Pemerintahan | 04-May-2026 04:11 WIB | Dilihat : 17 Kali
Foto : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto. (giripos)
BLITAR || Giripos.com – Upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi di pasar tradisional terus digencarkan pasca pandemi Covid-19. Perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin akrab dengan belanja digital menjadi tantangan serius bagi eksistensi pasar rakyat, termasuk di Kota Blitar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto, menegaskan bahwa upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi di pasar tradisional terus digencarkan pasca pandemi Covid-19.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin akrab dengan belanja digital menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar rakyat. Sejak pandemi, pola konsumsi mengalami pergeseran signifikan, di mana kemudahan, kepraktisan, dan harga kompetitif membuat belanja online kian diminati.
“Hal ini berdampak langsung pada menurunnya jumlah pengunjung pasar tradisional. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujar Parminto. Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor turut memengaruhi lesunya aktivitas pasar, mulai dari kualitas barang dagangan, kepastian harga, hingga aspek kebersihan, keamanan, dan kenyamanan. Selain itu, keterbatasan metode pembayaran digital seperti QRIS, OVO, dan DANA juga menjadi kendala di tengah tren transaksi non-tunai yang terus berkembang.
Meski demikian, Parminto menyebut geliat pasar tradisional belum sepenuhnya hilang. Aktivitas jual beli masih terlihat dinamis pada waktu-waktu tertentu.
Di Pasar Templek, misalnya, aktivitas sudah dimulai sejak dini hari. Pukul 02.00 hingga menjelang subuh, pasar dipadati bakul ethek yang berbelanja grosir untuk dijual kembali secara keliling. Bahkan sejak pukul 01.00 dini hari, pasokan sayur mayur dan hortikultura dari Pujon, Malang, dan sekitarnya sudah mulai berdatangan.
Sementara itu, Pasar Legi menunjukkan peningkatan aktivitas pada pukul 10.00 hingga 12.00 siang, serta kembali ramai pada sore hari pukul 15.00 hingga 17.00. Aktivitas grosir di kios sisi selatan dan kawasan Jalan Mayang menjadi daya tarik utama bagi pembeli.
Hal serupa juga terjadi di Pasar Pon yang ramai oleh pedagang kulakan pada pukul 03.30 hingga 05.30 pagi. “Ini menunjukkan bahwa pasar tradisional masih memiliki ceruk ekonomi yang kuat, khususnya dalam distribusi barang skala kecil dan menengah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Parminto menegaskan bahwa kebangkitan pasar tradisional tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, dan para pedagang.
Saat ini, Pemkot Blitar tengah menyiapkan revitalisasi fisik di sejumlah pasar seperti Pasar Legi, Pasar Kuliner, dan Pasar Pahing. Penataan tersebut tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga peningkatan kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta tata kelola pasar yang lebih modern.
Ke depan, pasar tradisional juga akan diarahkan menjadi ruang multifungsi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat masa kini. Selain sebagai pusat ekonomi, pasar juga diharapkan menjadi ruang kreatif anak muda, pusat seni dan budaya, hingga terintegrasi dengan platform jual beli online.
Parminto juga menekankan pentingnya peran DPRD dalam mendukung penganggaran dan pengawasan program revitalisasi, serta memberikan gagasan inovatif untuk pengembangan pasar.
Di sisi lain, kesiapan pedagang menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi ini. Adaptasi terhadap teknologi, termasuk penggunaan pembayaran digital serta peningkatan kualitas dan tampilan produk, dinilai menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.
“Dengan sinergi yang kuat dari semua pihak, kami optimistis pasar tradisional bisa kembali bangkit, menjadi pusat ekonomi kerakyatan yang hidup, dinamis, dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (rif)
