Orang Tua dan Komunitas Bergerak Sendiri, Masa Depan Pecatur Cilik Kabupaten Malang Dipertaruhkan
Sport | 02-Jun-2026 12:31 WIB | Dilihat : 9 Kali
Foto : Turnamen Catur Yang Digelar IPC di MI IMAMI Kepanjen (Doc.Istimewa)
MALANG || GIRIPOS.com – Potensi besar atlet catur usia dini di Kabupaten Malang dinilai belum mendapat perhatian dan pembinaan yang maksimal. Mandeknya aktivitas organisasi Pengurus Cabang Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Malang disebut menjadi salah satu faktor yang membuat pembinaan dan pengembangan bakat para pecatur muda berjalan tidak optimal.
Kondisi tersebut memunculkan keprihatinan dari kalangan orang tua, pelatih, dan pemerhati olahraga catur. Berangkat dari kepedulian terhadap masa depan atlet muda, mereka kemudian membentuk wadah pembinaan mandiri bernama Insan Peduli Catur (IPC) Kabupaten Malang. Melalui komunitas ini, berbagai kegiatan pembinaan rutin dan turnamen kelompok umur terus dilakukan secara swadaya untuk menjaga semangat serta mengasah kemampuan para atlet muda.
Sejumlah pecatur cilik potensial dari berbagai wilayah di Kabupaten Malang pun mulai bermunculan. Mereka di antaranya Clretta Meisie Santiano dari Kepanjen, Adibah Rafailah Marsah dan Nuski dari Bululawang di kelompok putri. Sedangkan di kelompok putra terdapat Mochammad Fadlil Abrori Salim dari Kepanjen, Muhammad Abyan Dliya'ussalam dari Bululawang, M. Iqbal Lazuardi dari Poncokusumo, serta Ilba dari Bululawang. Mereka dinilai memiliki kemampuan yang menjanjikan dan berpotensi mengharumkan nama Kabupaten Malang di tingkat regional maupun nasional.
Namun, karena IPC hanya berstatus sebagai komunitas swadaya dan bukan organisasi resmi yang berada di bawah naungan KONI, seluruh biaya pembinaan hingga keikutsertaan dalam berbagai kompetisi masih harus ditanggung secara mandiri oleh para orang tua dan pengurus komunitas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mencetak atlet catur berprestasi.
Persoalan tersebut turut mendapat perhatian dari praktisi hukum Agus Subyantoro, S.H., yang hadir sekaligus menjadi sponsor dalam turnamen catur yang digelar IPC di MI IMAMI Kepanjen, Minggu (31/5/2026). Menurutnya, sangat disayangkan apabila potensi besar yang dimiliki anak-anak Kabupaten Malang harus terhambat akibat persoalan koordinasi dan tidak berjalannya fungsi organisasi induk olahraga catur di daerah.
Agus berharap segera terjalin komunikasi dan sinergi yang baik antara Percasi Kabupaten Malang dengan IPC sebagai komunitas yang selama ini aktif melakukan pembinaan. Dengan adanya kerja sama yang baik, peluang Kabupaten Malang untuk melahirkan atlet-atlet catur berprestasi hingga level nasional bahkan internasional akan semakin terbuka.
Melihat tingginya antusiasme peserta dalam turnamen yang digelar IPC, para orang tua dan pemerhati catur berharap Pemerintah Kabupaten Malang, KONI, Dispora, serta Komisi IV DPRD Kabupaten Malang dapat turun tangan mencari solusi. Mereka menginginkan adanya dukungan nyata agar para atlet muda tidak kehilangan kesempatan berkembang hanya karena terkendala persoalan organisasi dan minimnya fasilitas pembinaan.
Harapan besar kini tertuju pada seluruh pemangku kepentingan agar pembinaan olahraga catur di Kabupaten Malang dapat kembali berjalan dengan baik. Dengan dukungan yang memadai, bukan tidak mungkin Bumi Kanjuruhan mampu melahirkan pecatur-pesatur muda berprestasi hingga menyandang gelar Master bahkan Grandmaster di masa mendatang.
(Black / WD)
